Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Dispensermu butuh perhatian lho! (?)



Oke kali ini saya bakal ngebahas tentang hal yang harus diperhatika pada dispenser. Pasti udah pada tau kan dispenser itu apa? Ah! Pasti udah pada tau lah xD , maka dari itu kali ini saya akan ngeshare sesuatu yang penting pada dispenser :)

Kita sering lupa dispenser yang kita gunakan bertahun-tahun itu membutuhkan perawatan bagian luar dan bagian dalamnya. Biasanya walau berulang-ulang mengganti galon air, kita sangat jarang membersihkan bagian dalam dispenser terutama pada bagian tabung pemanas. Bener ga? 

Kita mengabaikan fakta bahwa setiap pergantian galon selalu ada air yang tersisa di bagian dalam tabung dispenser, walau akan kembali tercampur dengan air baru namun dalam jangka waktu yang lama kita tidak tahu apa yang terjadi dan apa yang terbentuk di dalam.

Seperti yang dialami seorang netizen yang merasa kaget ketika membersihkan bagian dalam dispensernya, ketika membersihkan bagian tabung pemanas yang keluar adalah gumpalan-gumpalan putih seperti bubur kertas. Padahal air galon yang ia gunakan selama ini adalah air mineral dengan merek yang sangat terkenal.


Tidak diketahui apa sebenarnya gumpalan-gumpalan putih tersebut, apakah endapan tersebut terbentuk dari zat yang terkandung dalam air seperti fluoride dan lain sebagainya, jamur, atau memang kotoran debu yang tidak tersaring sempurna pada proses produksi air tersebut. Bayangkan bahaya kesehatan akibat air minum yang kita konsumsi tiap hari selalu bercampur dengan gumpalan kotoran seperti itu. Bayangkan berapa banyak bakteri yang bersarang di sana.

Dari segi kualitas, air mineral dengan merek terkenal memang belum tentu baik bagi kesehatan. Air mineral dengan merek terkenalpun bisa meninggalkan bekas yang terakumulasi seperti itu, apalagi jika air yang digunakan adalah air isi ulang sembarang yang dari segi kecanggihan proses filtrasi dan kandungan zatnya masih diragukan.

Dari aspek mikrobiologinya, air yang sehat tidak mengandung mikroba penyebab penyakit (patogen). Misalnya, bakteri E. coli yang bisa menyebabkan diare dan Salmonela typhi yang menyebabkan tipus bila air yang kita minum tercemar oleh kedua bakteri tersebut.

Selain harus selektif dalam memilih air kemasan galon, yang terpenting adalah sering-seringlah membersihkan bagian dalam dispenser anda terutama bagian tabung pemanas. Sterilkan bagian dalam dispenser secara teratur, karana selain menjamin dispenser dapat bekerja secara normal juga dapat mengurangi penyebaran bakteri dalam air.

Pertanyaan bagi anda pengguna dispenser, pernahkah anda membersihkan bagian dalam dispenser di rumah anda? seberapa seringkah anda membersihkan dan menguras bagian dalamnya? Tiap 2 minggu? tiap bulan? tiap tahun? atau sejak anda beli belum pernah mengurasnya sama sekali? Ayo bersihkan sekarang juga!

Oke sudahlah bahasan saya siang ini. Maaf gabisa ngasih sumber, karena saya menemukan ini di OA Line hehe. Tapi secepatnya akan saya coba mencari sumbernya^^ . Selamat siang dan selamat beraktifitas :)
Minggu, 26 Juli 2015
Posted by Unknown

Beberapa tips kebaikan yang boleh dicoba

Selamat sore, oke kali ini saya bakal ngeshare beberapa tips yang bisa dicoba untuk membalas kebaikan seseorang..

Mungkin beberapa dari kita sering mendapatkan kebaikan dari seseorang. Dan mungkin tidak membalasnya, menurut saya sih, itu hal yang salah. Kebaikan harus dibalas dengan kebaikan, selain cara lain untuk berterima kasih. Kita juga bisa mendapat keuntungan sendiri dimata orang lain.. Dan mungkin tips ini juga sudah umum dimata kalian. Tapi apa salahnya ngeshare sesuatu yang baik? :D


Jika kita meminjam mobil seseorang, isilah kembali bensinya sebagai rasa terima kasih
 
Jangan merokok didepan umum, karena bisa saja membawa rasa tidak nyaman



Jika seseorang membelikan kita suatu makanan, cobalah membayarnya lagi dalam waktu kurang dari 1 minggu
Jika kamu meminta bantuan teman untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya. Suguhi mereka makanan untuk rasa balas budi
Kembalikan uang yang sudah dipinjam secepat mungkin, walau nyicil juga gapapa :v . Jangan pernah berpikir mereka tidak membutuhkannya dan jangan pernah membuat mereka menagih
Jika kamu telah menginap dirumah seseorang, jangan lupa rapihkan kembali kasurnya
Jangan berpendapat ditempat umum. Carilah tempat lain, karena bisa saja itu menggangu orang lain
Jika seseorang memasak sesuatu untukmu, jangan lupa tawarkan bantuan untuk membersihkan dapur
Jika sedang mendengarkan lagu atau apapun yang mengelurakan suara dari HP anda, kecilkan volumenya. Atau lebih baik gunakan headphones
Selalu sisakan makanan untuk orang yang telah membelinya. Kecuali mereka bilang tidak mau


Jangan memutuskan hubungan kita dengan seseorang melalui sms
Jika menggunakan hp / komputer seseorang. Jangan memasuki area privasi sebelum ada izin dari yang memiliki
Jika kau tidak sengaja melewatkan suatu telpon, segera sms jika kita tidak bisa ditelpon (tergantung kondisi)
Jangan lupa mengembalikan buku yang telah kamu pinjam

Yap segitu saja yang bisa saya kasih tahu hehe^^ . Jangan lupa, hidup ini adil. Kalo ga adil ya harus kita buat adil hehe :p . Kalo soal alesan, tanya aja dikolom komentar atau setidaknya bisa lah mengerti sendiri :) . Okee, selamat sore dan selamat ber... istirahat? xD

Posted by Unknown

[Encouragement] Pembelajaran di Indonesia?

Gambar ini hanya ilustrasi, Sumber dari Facebook


Oke selamat pagi. Kali ini saya bakal re-post sebuah encouragement dari seorang Guru Besar di Universitas UI, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D. Ya, encouragement ini membahas tentang pembelajaran di Indonesia dan di Luar Negri. Mungkin, sudah banyak dari kalian yang membaca ini. Tapi, saya tidak akan bosan membagikan informasi yang menurut saya berguna kapanpun itu. Oke, kita lihat saja dibawah ini


LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.(*)


RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI


Oke, sekian dari saya. Maaf jika ada disalah kata mohon dimaafkan. Selamat pagi dan selamat beraktifitas ^^

Senin, 29 Juni 2015
Posted by Unknown

Follow Us!

Popular Post

- Copyright © This Is Our Story - Metrominimalist - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -