Tampilkan postingan dengan label -f. Tampilkan semua postingan

Cerpen1-TERLAMBAT MENCINTAI



“Tidak usah, Terimakasih.” 

Jawaban singkat yang pernah Gue denger satu minggu yang lalu saat Gue berniat untuk mengantarnya pulang. Sejak kejadian itu Gue merasa ada yang aneh sama cewek itu. Entah kenapa sikapnya jadi dingin ke. Dia salah satu teman cewek sekelas Gue, kebanyakan orang memangil dia Putri. Gue tidak ingin memikirkan ini terlalu lama. Keesokan harinya, Gue bertemu dia di sekolah. Tapi kali ini dia terlihat seperti pura-pura tidak melihat Gue. Saat Gue panggil, dia tidak noleh sedikitpun. Akhirnya Gue pun menghiraukan sikapnya itu.

Esok lusa, di sekolah Gue ada acara perpisahan angkatan 43. Tentunya Gue salah satu siswa dari angkatan ini. Sehingga siang ini Gue harus prepare baju yang akan Gue kenakan di acara perpisahan itu. *PING!!!* bunyi BBM yang membuat Gue kaget di tengah-tengah salah satu Mall di Jakarta. Ternyata itu BBM dari April, temen Gue juga.

“Dasar, cowok tidak peka!”…

Awalnya Gue berfikir, “siapa yang tidak peka?” dalam hati. Dan Gue membalasnya.

“Maksud Lo apa, Pril?”…. Hanya di read.

Acara perpisahan telah tiba, Gue berusaha agar tidak terlambat sampai gedung yang menggelar acara perpisahan sekolah Gue. Sesampainya disana, Gue duduk di tempat yang sudah disediakan, yang sudah tertempel nama-nama siswa/siswi angkatan 43. Kebetulan Gue duduk disebelah Putri.

“Hi, Put. Lo kelihatan cantik hari ini.” Sapa Gue.

“Terimakasih, Lo juga kelihatan beda dengan tampilan seperti ini, jas dan dasi Lo sangat cocok.” Balasnya dengan senyuman.

Percakapan kami di akhiri karena acara akan segera dimulai. Susunan acara pun dibacakan oleh MC, dan diawali dengan sambutan-sambutan. Acara demi acara terlewati, hingga berakhir di sesi foto-foto.
Gue pulang disaat matahari tepat diatas kepala Gue, sungguh terasa panas, membuat Gue ingin cepat-cepat sampai rumah.
-----

Berminggu-minggu Gue tunggu pengumuman dimana Gue daftar, ijazah pun sudah dibagikan. Dan, akhirnya Gue keterima di salah satu sekolah SMA Negeri di Ibukota Indonesi itu, yang dipilihkan oleh paman Gue. Jika masalah pendidikan, orangtua Gue sudah menyiapkan semuanya saat Ayah masih ada. Terkadang memang tidak sesuai dengan keinginan Gue. Gue termasuk orang yang pintar diantara teman-teman yang lain. Jadi, pilihan apapun itu tidak pernah jadi masalah, dan memang buktinya pilihan itu membuat Gue menambah pengetahuan yang lebih luas.

Akhir-akhir ini Gue sering menerima SMS dari Putri, teman SMP Gue dulu. Dari nanyain kabar Gue, sekolah baru Gue, teman-teman baru Gue, pokoknya dia care sama Gue. Tapi, tidak ada satupun sms yang Gue balas. Mungkin Gue terlalu sibuk mengisi waktu libur Gue sama keluarga, pergi sana sini. Karena dalam keluarga Gue, uang bukan lah masalah. Walaupun Ayah tiri, tapi dia baik banget.

Minggu depan sudah masuk ke tahun ajaran baru, dimana sekolah Gue bukan lagi junior high school lagi. Tapi yang lebih tinggi dari itu, yaitu SMA. Masa-masa Gue beranjak dari remaja ke dewasa. Dengan fasilitas yang sudah Gue dapatkan dari orangtua Gue, seperti motor, ATM, budget, laptop dan lainnya.

First day.
Dihari pertama ini, Gue mengikuti kegiatan sekolah pada umumnya. Ya, MOS. Masa Orientasi Siswa. Siswa baru bukanlah di kenalkan lebih dekat dengan sekolahnya, melainkan masa dimana para senior melakukan aksi balas dendam. Kegiatan ini akan berlangsung 5 hari. kami para siswa-siswi baru, yang setiap harinya diberi tugas atau aturan mulai dari pakaian, makanan yang harus dibawa dan sebagainya.

“Untungnya kegiatan MOS ini berjalan hanya sampai jam 12 siang.” Hari pertama ini Gue belum terlalu kenal dengan yang lainnya, Gue pun belum melihat teman-teman se-SMP Gue yang juga mendaftar di sekolah ini. “Atau cuma Gue yang daftar disini? Ah, tidak mungkin, ini kan sekolah favorit.” Pikir Gue dalam hati.

4 hari pun berlalu, hari ini hari terakhir MOS dan Gue melihat Putri, ya, teman SMP Gue dulu, dia juga sekolah disini. Kami pun satu sekolah lagi. Entah kenapa Gue merasa senang mengetahui ini.
Keesokkan harinya, kebetulan hari ini libur. Gue pergi keluar hanya untuk mengantar Ibu Gue belanja. Kami memang sangat dekat, Gue pun berjanji akan selalu ada untuk Ibu Gue. Dikarenakan, Ayah Gue sudah tidak ada, tepatnya 3 tahun yang lalu Ayah sudah meninggalkan kami. Sehingga Gue tidak mau Ibu merasa kesepian.

Sesampainya kami di swalayan, seperti biasa Gue tunggu di café untuk sekedar ngopi. *sssshhrruuuppp* disaat Gue lagi minum dikit demi sedikit kopi itu, ada April dan temannya. “kayanya itu April, dia sama siapa ya?” Gumam Gue. Setelah lama Gue perhatikan, akhirnya dia pun melihat Gue dan mengahampiri. 

“Hi, Tris! Sendirian aja?” Sapa nya.

“Iya nih, biasa lah Gue lagi nunggu Ibu Gue belanja, biar ga bete Gue ngopi disini.” Jawab Gue.

“Ohiya, kenalin ini Riko… pacar Gue. Riko, ini Tristan temen SMP Gue.” Gue dan Riko pun berkenalan. Dan akhirnya kami duduk bertiga. Kami pun saling menceritakan sekolah baru, dan April menanyakan Putri ke Gue. Cukup lama kami ngobrol, banyak yang April ceritakan tentang Putri, yang sebelumnya Gue tidak menyadarinya.

1 jam berlalu, Ibu Gue ternyata sudah selesai belanja, Gue pun langsung pamit ke April, dan Riko untuk pulang duluan. Selama diperjalanan, Gue terus memikirkan apa yang diceritakan April di café tadi, “Apakah itu semua benar? Jadi, selama ini Gue tidak peka sama perasaan April ke Gue? Betapa bodohnya Gue!”.
-----
Senin, 18 Januari 2016
Posted by Unknown

SCARY(4)



Jendela


Suara langkah kaki Rio dan Bu Sri telah terdengar olehku yang sedang sibuk mencari semua yang dibutuhkan di dalam ruangan yang biasa kami sebut sekre. Suara langkah mereka pun makin terdengar dan akhirnya mereka sampai didepan pintu ruangan itu, kemudian mereka menghampiri ku untuk membantu membawakan peralatan yang dibutuhkan untuk upacara senin esok.
“Kurang berapa lagi, Bu?” tanya Rio kepada Bu Sri yang sedang mendata peralatan yang dibutuhkan.  Setelah didata, kami memang membutuhkan lumayan banyak. Kami cukup menghabiskan waktu di sekre tersebut.
Suasana memang begitu cerah membuat kami kepanasan di dalam ruangan itu. Tiba-tiba “Ko kepala Ibu pusing ya? Dan terasa mual.” ujar Bu Sri kepada Aku dan Rio yang sedang mengipas-ngipas menggunakan kertas robekan. “Mungkin karena Ibu belum sempat makan siang?” ujarku. “Ibu tadi sudah makan, tapi kenapa terasa pusing gini ya? Padahal daritadi tidak apa-apa.” Tak lama setelah itu, Rio pun merasakan hal yang serupa, ia juga merasakan apa yang dirasakan Ibu Sri, pusing dan mual. Aku pun ingat perkataan bibi ku bahwa kita akan merasakan pusing dan mual bila disuatu ruangan yang terdapat makhluk lain. Namun, aku tetap tenang.
Kami tetap mengumpulkan peralatan yang dibutuhkan, walau dengan keadaan pusing. Suasana menjadi dingin, akhirnya semua telah siap. Kami pun segera membawanya ke lobby sekolah, teman-teman sudah menunggu lama disana.
Ketika aku, Rio, dan Bu Sri akan beranjak dari sekre itu, tiba-tiba……… *dorrrrrrrrrrr* satu-satunya jendela di sekre itu menutup sendiri, sehingga kami kaget. Padahal saat itu tidak ada angin yang melintas. Saat Bu Sri sedang mengunci pintu sekre itu, kami dibuat terkejut, ada banyak rambut di bawah kaki kami, namun kami tidak berani untuk menengok ke atas. Kami pun berjalan namun cepat, sehingga kami sampai di lobby. Dan kami tidak membicarakan kepada semuanya, agar mereka tidak merasa takut.
Sabtu, 15 Agustus 2015
Posted by Unknown

SCARY(3)

Lorong Kelas

Saat itu suasana sangat sepi, mungkin karna aku mendapat jadwal belajar di kelas yang terdapat disuatu  gedung. Ya, Gedung E! Gedung itu bernama gedung E, entah kenapa disekolah ku selalu menamakan gedung dari huruf alfabet. Ku pikir-pikir memang gedung ini yang paling jauh dari gerbang sekolah. Mungkin itu alasannya mengapa suasana disana sangat sepi, dan memang kenyataannya jarang terlihat murid berlalu-lalang melewati lorong-lorong gedung itu.
Rasanya ingin cepat-cepat selesai dari pelajaran terakhir itu, hatipun sudah tidak tenang, dan suasana  disanapun tak membuatku nyaman lagi. Angin pun bertiup cukup kencang, mengakibatkan daun-daun pepohonan yang berada di luar kelas ku bergoyang hingga perhatian ku tertuju ke salah satu pohon yang cukup besar di sudut lorong yang dapat kulihat dari dalam kelas dimana aku duduk, memang cukup jauh, namun mata ku masih normal sehingga benda yang jauh masih terlihat jelas oleh kedua bola mata ku.
Seperti terkena sihir, mataku terus tertuju dan terus memperhatikan pohon itu. Astagaaaaaaaaaaaa!!!!! Aku melihat perempuan paruh baya berdiri di bawah pohon itu, mata ku seolah tak bisa berkedip, rambutnya putih, namun yang ku lihat hanyalah tulang-tulang yang terlihat seperti tengkorang berjalan, kulit-kulit yang menempel pada tubuh layaknya manusia normal kini tak ada, melainkan telah terlepas. Aku yakin bahwa aku tidak sedang melamun, mata ku melihat sosok itu dengan jelas…. Sangat jelas!
“Fan…. Fanny? Kamu kenapa? Pelajaran sudah selesai, cepat rapihkan alat tulis mu!” ucap teman sebangku ku yang mengejutkan ku. Tanpa menjawab pertanyaan nya, dengan cepat aku membereskan semua barang-barang ku. Selama diperjalanan pulang aku berusaha keras melupakan kejadian sore itu, namun sulit rasanya.
Selasa, 11 Agustus 2015
Posted by Unknown

Rasa yang Tertunda #eps8

Malam pun tiba, Aku pun membereskan buku-buku yang akan Ku bawa untuk esok hari. Sebagai pelajar itu lah kewajiban Ku membereskan buku-buku yang diperlukan. Tak lupa juga untuk mengecek tugas apa saja yang belum ku kerjakan dan memang terkadang Aku lupa akan hal itu, sehingga Aku harus selalu mengecek satu per satu mata pelajaran yang Aku pelajari, dan untungnya semua PR ku telah selesai ku kerjakan, memang belum cukup banyak sehingga Aku masih mudah untuk membagi waktu ku. Hanya soal-soal yang belum ku mengerti saja yang tak ku kerjakan, mungkin esok akan ku tanya kepada teman atau guru yang bersangkutan. Di kurikulum yang diterapkan di sekolah ku memang mendidik siswa agar aktif bertanya, maka dari itu akan ku biasakan selalu bertanya. 

Setelah yakin bahwa tugas-tugas ku sudah selesai, akhirnya Aku bisa merasakan waktu santai. Terdengar dari luar rumah tetesan air hujan dan angin yang lewat cukup kencang menggoyangkan hordeng jendela kamarku yang berwarna merah muda. Sautan dari kodok-kodok bersorak ria menyambut hujan-hujan ini pun menemani ku di malam itu. Akibat tak ada kerjaan yang harus ku selesaikan lagi Aku pun mencoba menulis puisi, Aku memang menyukai untaikan kata yang indah, sehingga menarik ku untuk mencoba membuat walau Aku belum mempunyai bakat menulis puisi, tetapi akan terus ku coba.

Kertas kosong, dan pulpen hitam segera ku ambil dari tempatnya. Pulpen itu mulai menari-nari diatas kertas putih ini sedangkan Aku mencari kata-kata yang indah layaknya puisi yang pernah ku baca, sungguh indah terdengar. Akhirnya puisi yang telah ku buat sudah terangkai.

Hujan

Awan hitam itu telah datang

Dunia menjadi gelap karna mu

Matahari pun takut pada mu

Sehingga ia enggan menampakkan dirinya

Tik tik tik…..

Kau benar-benar telah turun

Suara kodok mulai terdengar

Ditemani kilat yang menggelegar

Kau tak kenal waktu

Kau turun begitu banyak

Kau turun bersama-sama

Petir pun setia menemani mu

Membuat ku merasa takut

Kau yang membuat bumi ini basah

Menyiram semua tumbuhan yang ada

Setelah lama kau turun

Akhirnya kau pergi meninggalkan kerinduan

Cukup lama Aku membuat sebuah puisi seperti itu dan hal ini Membuat ku lelah, hingga mata ku terpejam dengan sendirinya.
Minggu, 07 Juni 2015
Posted by Unknown

Rasa yang Tertunda #eps7

Di pagi hari yang cerah, banyak embun terlihat di tumbuhan sekeliling rumah Ku, dikarenakan semalam hujan turun begitu deras. Matahari pun enggan menampakkan kecantikannya. Aku pun keluar rumah untuk sekedar menghirup udara segar. Terlihat orang tetangga sedang mempersiapkan apa yang akan dibawanya untuk berlibur, mereka memasukkan barang-barang kedalam bagasi mobil. Sepertinya sebentar lagi mereka akan berpergian jauh untuk mengisi liburan mereka. Setelah Aku sudah mulai bosan dengan apa yang Aku lihat di sekeliling rumah, akhirnya Aku pun masuk ke rumah untuk sekedar melihat Ibu Ku yang sedang masak di dapur 
“Niatnya sih ingin membantu, tetapi Aku takut malah merepotkannya.” Pikir Ku. Akhirnya, Aku masuk lagi ke kamar, kebetulan hari ini hari minggu jadi Aku hanya di dalam kamar untuk menghabiskan waktu libur Ku, habisnya tidak ada yang mengajak Ku pergi.
Beberapa menit Aku terdiam, Aku kebingungan apa yang akan harus Ku lakukan di waktu senggang ini. Akhirnya, mata Ku memandang laptop yang berada di atas meja belajar Ku, dengan cepat Aku mendekatinya dan mulai memainkan touchpad laptopku, kemudian memasangkan modem agar tersambung dengan jaringan internet, setelah tersambung seperti biasa Aku browsing sekedar mencari informas ter-update.
Saat sedang fokus dengan apa yang Ku lihat di salah satu blog, tiba-tiba HP Ku berbunyi menandakan ada pesan masuk. Tidak berfikir panjang Aku mengambil HP itu yang berada di atas kasur tempat tidur Ku. Setelah Aku menekan salah satu tombol HP Ku agar melihat pesan masuk, Aku pun terkejut.
“Ayu….” Isi pesan dar nomor yang tidak di kenal dari suatu tempat entah dimana
Aku pun ragu untuk membalas nya, namun Aku mencoba bertanya
“Ya, Ini siapa?” balas Ku singkat
“Ini Aku,Yu… Raka.“ jawab seorang itu yang ternyata ia teman sekelas Ku. Ya, dia Raka.
“Ada apa, Raka?” Tanya Ku lagi
“Punya akun Line tidak?”
“Hahaha, tidak punya. Memang nya kenapa?”
Aku dan Raka terus berbalas pesan, namun hanya beberapa menit saja. Setelah itu Aku pun malas untuk membalas pesan nya yang ditujukan kepada Ku itu, yang lama-kelamaan membicarakan hal yang tidak penting. Bagi Ku itu hanya membuang-buang waktu Ku saja. Akhirnya, Aku pun melanjutkan aktivitas Ku seperti biasanya, tak menghiraukan pesan masuk dari Raka.

Kamis, 09 April 2015
Posted by Unknown

Masih Ragu untuk Berhijab?


Malam teman-teman yang dirahmati Allah, yang mungkin sedang sibuk dengan dunia nya sendiri yang kebanyakan selalu mengutamakan senda gurau belaka. Heemmm kali ini saya akan nge-post khusus untuk kamu hawa, tetapi tak masalah jika kaum adam pun membacanya.

Sabtu, 04 April 2015
Posted by Unknown
Tag : ,

Rasa yang Tertunda #eps6

Pelajaran berlangsung seperti biasa tidak ada yang membuat keanehan lagi macam tingkah Raka saat itu. Setelah selesai, dilanjutkan ke pelajaran yang ke-2 hingga di pelajaran ke-4.

Akhirnya, pelajaran pun selesai, Aku pun keluar kelas dan gerbang sekolah untuk pulang ke rumah. Aku turun dari lantai tiga, lantai yang paling atas menuju gerbang. Aku pun jalan sendirian menuju gerbang, kebetulah hari ini Nisa tidak masuk sekolah dikarenakan sakit. Tiba-tiba Raka berada disamping Ku, berjalan bersama Ku hingga depan gerbang.

“Tadi Kamu kenapa? Sampai bengong seperti itu, cari-cari perhatian saja.” Ucapku dengan sedikit ledekan.

“Aku.... hemmm Aku tidak apa-apa kok” jawab Raka tak meyakinkan.

“Oh iya Yu, Aku minta nomor handphone Kamu, boleh?” pinta nya.

“Oh, boleh ko. Catat ya!” jawab Ku dengan menyebutkan nomor HP Ku.

“Ok, terimakasih.” Ujarnya dengan memasukkan HP ke dalam saku baju nya.

Sesampainya digerbang Aku dan Raka berpisah. Kami pulang menuju rumah masing-masing.

Dahulu Raka tidak percaya akan hal cinta pada pandangan pertama, namun ternyata ia merasakan sendiri. Ya! Dia merasa menemukan mawar biru dihidupnya setelah kenal dengan Ayu. Sejak itu lah Raka percaya bahwa cinta itu bisa muncul pada pandangan pertama.
Posted by Unknown

SCARY(2)



Gadis itu Menyeramkan!!!
Senin, 30 Maret 2015
Posted by Unknown

Rasa yang Tertunda #eps5

    Bu Dini, salah satu guru di sekolah tempat Ku belajar yang kebetulan hari ini ia mengisi kelas Ku. Ia adalah guru matematika, selain itu ia adalah wali kelas Ku. Sehingga kami cukup dekat dengan nya. Bu Dini terkenal dengan guru yang cuek dan jutek namun bila ia sedang mengajar sifat yang telah kami simpulkan pun tak terlihat sedikit pun. Selain itu ia adalah guru amat cantik, dari postur tubuhnya sampai cara ia berjalan pun sudah nampak jelas bahwa ia sepertinya mantan model. Dibarengi lagi fashion yang sering ia gunakan selalu berbeda-beda saat mengajar membuat kami para murid tak bosan melihat Bu Dini.

Pukul 07:00. Hari ini Bu Dini lah yang masuk ke kelas Ku.
“Selamat pagi anak-anak” masuk kelas dan menyapa seluruh makhluk yang berada di dalam kelas, hingga makhluk yang berbeda dimensi pun disapa nya. (Just kidding, haha)
“Selamat pagi, Bu!” jawab Ku dan diikuti yang lainnya.
Seperti biasa kami selalu berdoa sebelum pelajaran dimulai, setelah Bu Dini duduk dimeja nya Halim pun langsung menyiapkan kami yang masih sibuk dengan kegiatan masing-masing untuk mulai berdoa.

Pelajaran pun dimulai, kelas menjadi hening, hanya terdengar suara Bu Dini yang sedang menjelaskan beberapa materi yang sedang dipelajari saat ini. Aku yang duduk bersama teman Ku dibarisan kedua dari depan mencoba memperhatikan apa yang diterangkan, sehingga Aku berusaha untuk tetap fokus.

“Raka!” teriakan Bu Dini untuk menyadarkan Raka yang tak memperhatikan apa yang diterangkan di depan kelas, kelihatannya ia sedang melamunkan sesuatu.
“Iya, Bu. Kenapa?” spontan Raka menjawab, antara sadar dan tidak sadar.
“Kamu sedang melamunkan apa? Sampai bengong seperti itu, ayo perhatikan!” perintah Bu Dini .
Bu Dini memang tidak suka bila ada murid yang tidak memperhatikan saat sedang diterangkan, walaupun semua guru kebanyakan memang seperti itu. Pandangan semua siswa di kelas seketika mengarah pada Raka yang duduk tepat dibelakang Ku, seperti ada tarikan magnet yang membuat semua pasang mata melirik Raka.
“Iya, Bu. Maaf” jawabnya dan mulai memperhatikan kembali.

“Mengapa Aku jadi melamunkan cewek itu?” dalam hatinya. Meskipun Raka telah ditegur, namun pikiran nya masih entah dimana.
Sabtu, 28 Maret 2015
Posted by Unknown

Rasa yang Tertunda #eps4

      Sebentar lagi matahari memperlihatkan kecantikannya di bumi ini, menyapa seluruh makhluk hidup yang ada dan siap untuk membantu kelangsungan hidup. Namun Aku masih tertidur pulas, 

‘Oh baby I'll take you to the sky Forever you and I, you and I ... And we'll be together till we die Our love will last forever and forever you'll be mine, you'll be mine’.  
Dan ini lah waktunya Aku membuka kedua mata Ku, akibat suara alarm yang terdengar membuat ditelinga Ku bising, lantas saja Aku terbangun. Begitu berat untuk membuka mata ini, namun Ku paksa sekuat tenaga, untuk menghilangkan kantuk yang melanda mata Ku, Aku pun mengambil wudhu dan melaksanakan sholat sebagai tanda ketaqwaan Ku terhadap Sang Pencipta. 

Seperti biasa Aku dibuatkan bekal oleh Ibu Ku, lima hari dalam satu minggu, Aku harus sekolah dan ia tak pernah lelah ataupun malas untuk membuatkan Ku bekal. Namun jika kesiangan, Aku tidak mau membuat nya repot.

Setelah memasukan semua barang yang harus Ku bawa, Aku pun mendekati Ibu Ku “Ayu berangkat sekolah dulu ya, Bu. Asslamualaikum?” dibarengi dengan mencium tangan nya dengan tatapan penuh kasih sayang. “Iya, hati-hati dijalan, Yu! Walaaikumussalam.”  Aku pun berjalan semakin menjauh dari rumah yang Ku tinggali. Seperti biasa, Aku pun berpapasan dengan orang-orang berdasi yang menggunakan kemeja mereka yang terlihat rapih dan membawa tasnya itu sedang berangkat kerja.

Selama diperjalanan menuju sekolah rasanya hati tenang, tanpa dihantui perasaan takut akan keterlambatan, karena hari ini jalan lumayan lega dan lancar, tak biasanya seperti ini. Akhirnya, Aku sampai di sekolah 5 menit lebih awal dari biasanya.
Jumat, 27 Maret 2015
Posted by Unknown

Rasa yang Tertunda #eps3



“Ayu…….” Seseorang berjilbab, bertubuh kurus namun tinggi memanggil Ku dengan suara lantang, sepertinya ia ada di belakang Ku, ternyata Dia sahabat Ku “Iya, ada apa, Nis?” tanya Ku setelah menoleh ke arah nya. “Pulang bareng dong!” pinta seorang cewek berjilbab itu kepada Ku, kebetulan Aku dan Nisa searah “Oke, ayo kita pulang!” berjalan dan disusul oleh Nisa yang saat ini berada di samping Ku dan kami berjalan berdampingan.

Rabu, 25 Maret 2015
Posted by Unknown

Rasa yang Tertunda #eps2



     *kriiiinngggggg* Pukul 07:00 bel di sekolah Ku berbunyi 3x, banyak orang berlarian ke arah ruangan mereka masing-masing, tentunya bukan hanya siswa-siswi saja, tak sedikit guru pun datang terlambat. Bila lewat 1 menit saja, Aku tidak diizinkan masuk kelas untuk belajar melainkan harus menunggu pelajaran hingga selesai di luar ruangan. Dengan penuh semangat Aku akan berusaha agar tidak seperti itu, bagi Ku menunggu adalah hal yang sangat membosankan seumur hidup Ku.
Minggu, 22 Maret 2015
Posted by Unknown

Follow Us!

Popular Post

- Copyright © This Is Our Story - Metrominimalist - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -