Tampilkan postingan dengan label -f. Tampilkan semua postingan
Cerpen1-TERLAMBAT MENCINTAI
“Tidak
usah, Terimakasih.”
Jawaban
singkat yang pernah Gue denger satu minggu yang lalu saat Gue berniat untuk
mengantarnya pulang. Sejak kejadian itu Gue merasa ada yang aneh sama cewek
itu. Entah kenapa sikapnya jadi dingin ke. Dia salah satu teman cewek sekelas Gue,
kebanyakan orang memangil dia Putri. Gue tidak ingin memikirkan ini terlalu
lama. Keesokan harinya, Gue bertemu dia di sekolah. Tapi kali ini dia terlihat
seperti pura-pura tidak melihat Gue. Saat Gue panggil, dia tidak noleh sedikitpun.
Akhirnya Gue pun menghiraukan sikapnya itu.
Esok
lusa, di sekolah Gue ada acara perpisahan angkatan 43. Tentunya Gue salah satu
siswa dari angkatan ini. Sehingga siang ini Gue harus prepare baju yang akan Gue kenakan di acara perpisahan itu.
*PING!!!* bunyi BBM yang membuat Gue kaget di tengah-tengah salah satu Mall di
Jakarta. Ternyata itu BBM dari April, temen Gue juga.
“Dasar,
cowok tidak peka!”…
Awalnya
Gue berfikir, “siapa yang tidak peka?” dalam hati. Dan Gue membalasnya.
“Maksud
Lo apa, Pril?”…. Hanya di read.
Acara
perpisahan telah tiba, Gue berusaha agar tidak terlambat sampai gedung yang
menggelar acara perpisahan sekolah Gue. Sesampainya disana, Gue duduk di tempat
yang sudah disediakan, yang sudah tertempel nama-nama siswa/siswi angkatan 43.
Kebetulan Gue duduk disebelah Putri.
“Hi,
Put. Lo kelihatan cantik hari ini.” Sapa Gue.
“Terimakasih,
Lo juga kelihatan beda dengan tampilan seperti ini, jas dan dasi Lo sangat
cocok.” Balasnya dengan senyuman.
Percakapan
kami di akhiri karena acara akan segera dimulai. Susunan acara pun dibacakan
oleh MC, dan diawali dengan sambutan-sambutan. Acara demi acara terlewati,
hingga berakhir di sesi foto-foto.
Gue
pulang disaat matahari tepat diatas kepala Gue, sungguh terasa panas, membuat Gue
ingin cepat-cepat sampai rumah.
-----
Berminggu-minggu
Gue tunggu pengumuman dimana Gue daftar, ijazah pun sudah dibagikan. Dan,
akhirnya Gue keterima di salah satu sekolah SMA Negeri di Ibukota Indonesi itu,
yang dipilihkan oleh paman Gue. Jika masalah pendidikan, orangtua Gue sudah
menyiapkan semuanya saat Ayah masih ada. Terkadang memang tidak sesuai dengan
keinginan Gue. Gue termasuk orang yang pintar diantara teman-teman yang lain.
Jadi, pilihan apapun itu tidak pernah jadi masalah, dan memang buktinya pilihan
itu membuat Gue menambah pengetahuan yang lebih luas.
Akhir-akhir
ini Gue sering menerima SMS dari Putri, teman SMP Gue dulu. Dari nanyain kabar Gue,
sekolah baru Gue, teman-teman baru Gue, pokoknya dia care sama Gue. Tapi, tidak ada satupun sms yang Gue balas. Mungkin Gue
terlalu sibuk mengisi waktu libur Gue sama keluarga, pergi sana sini. Karena
dalam keluarga Gue, uang bukan lah masalah. Walaupun Ayah tiri, tapi dia baik
banget.
Minggu
depan sudah masuk ke tahun ajaran baru, dimana sekolah Gue bukan lagi junior high school lagi. Tapi yang lebih
tinggi dari itu, yaitu SMA. Masa-masa Gue beranjak dari remaja ke dewasa.
Dengan fasilitas yang sudah Gue dapatkan dari orangtua Gue, seperti motor, ATM,
budget, laptop dan lainnya.
First day.
Dihari
pertama ini, Gue mengikuti kegiatan sekolah pada umumnya. Ya, MOS. Masa Orientasi
Siswa. Siswa baru bukanlah di kenalkan lebih dekat dengan sekolahnya, melainkan
masa dimana para senior melakukan aksi balas dendam. Kegiatan ini akan
berlangsung 5 hari. kami para siswa-siswi baru, yang setiap harinya diberi
tugas atau aturan mulai dari pakaian, makanan yang harus dibawa dan sebagainya.
“Untungnya
kegiatan MOS ini berjalan hanya sampai jam 12 siang.” Hari pertama ini Gue
belum terlalu kenal dengan yang lainnya, Gue pun belum melihat teman-teman
se-SMP Gue yang juga mendaftar di sekolah ini. “Atau cuma Gue yang daftar
disini? Ah, tidak mungkin, ini kan sekolah favorit.” Pikir Gue dalam hati.
4
hari pun berlalu, hari ini hari terakhir MOS dan Gue melihat Putri, ya, teman
SMP Gue dulu, dia juga sekolah disini. Kami pun satu sekolah lagi. Entah kenapa
Gue merasa senang mengetahui ini.
Keesokkan
harinya, kebetulan hari ini libur. Gue pergi keluar hanya untuk mengantar Ibu Gue
belanja. Kami memang sangat dekat, Gue pun berjanji akan selalu ada untuk Ibu Gue.
Dikarenakan, Ayah Gue sudah tidak ada, tepatnya 3 tahun yang lalu Ayah sudah
meninggalkan kami. Sehingga Gue tidak mau Ibu merasa kesepian.
Sesampainya
kami di swalayan, seperti biasa Gue tunggu di café untuk sekedar ngopi. *sssshhrruuuppp* disaat Gue lagi minum
dikit demi sedikit kopi itu, ada April dan temannya. “kayanya itu April, dia
sama siapa ya?” Gumam Gue. Setelah lama Gue perhatikan, akhirnya dia pun
melihat Gue dan mengahampiri.
“Hi,
Tris! Sendirian aja?” Sapa nya.
“Iya
nih, biasa lah Gue lagi nunggu Ibu Gue belanja, biar ga bete Gue ngopi disini.”
Jawab Gue.
“Ohiya,
kenalin ini Riko… pacar Gue. Riko, ini Tristan temen SMP Gue.” Gue dan Riko pun
berkenalan. Dan akhirnya kami duduk bertiga. Kami pun saling menceritakan
sekolah baru, dan April menanyakan Putri ke Gue. Cukup lama kami ngobrol,
banyak yang April ceritakan tentang Putri, yang sebelumnya Gue tidak
menyadarinya.
1
jam berlalu, Ibu Gue ternyata sudah selesai belanja, Gue pun langsung pamit ke
April, dan Riko untuk pulang duluan. Selama diperjalanan, Gue terus memikirkan apa
yang diceritakan April di café tadi,
“Apakah itu semua benar? Jadi, selama ini Gue tidak peka sama perasaan April ke
Gue? Betapa bodohnya Gue!”.
-----
SCARY(4)
Jendela
Suara langkah kaki Rio dan Bu Sri
telah terdengar olehku yang sedang sibuk mencari semua yang dibutuhkan di dalam
ruangan yang biasa kami sebut sekre. Suara langkah mereka pun makin terdengar
dan akhirnya mereka sampai didepan pintu ruangan itu, kemudian mereka menghampiri ku
untuk membantu membawakan peralatan yang dibutuhkan untuk upacara senin esok.
“Kurang berapa lagi, Bu?” tanya
Rio kepada Bu Sri yang sedang mendata peralatan yang dibutuhkan. Setelah didata, kami memang membutuhkan
lumayan banyak. Kami cukup menghabiskan waktu di sekre tersebut.
Suasana memang begitu cerah
membuat kami kepanasan di dalam ruangan itu. Tiba-tiba “Ko kepala Ibu pusing
ya? Dan terasa mual.” ujar Bu Sri kepada Aku dan Rio yang sedang
mengipas-ngipas menggunakan kertas robekan. “Mungkin karena Ibu belum sempat
makan siang?” ujarku. “Ibu tadi sudah makan, tapi kenapa terasa pusing gini ya?
Padahal daritadi tidak apa-apa.” Tak lama setelah itu, Rio pun merasakan hal
yang serupa, ia juga merasakan apa yang dirasakan Ibu Sri, pusing dan mual. Aku
pun ingat perkataan bibi ku bahwa kita akan merasakan pusing dan mual bila
disuatu ruangan yang terdapat makhluk lain. Namun, aku tetap tenang.
Kami tetap mengumpulkan peralatan
yang dibutuhkan, walau dengan keadaan pusing. Suasana menjadi dingin, akhirnya
semua telah siap. Kami pun segera membawanya ke lobby sekolah, teman-teman
sudah menunggu lama disana.
Ketika aku, Rio, dan Bu Sri akan
beranjak dari sekre itu, tiba-tiba……… *dorrrrrrrrrrr* satu-satunya jendela di
sekre itu menutup sendiri, sehingga kami kaget. Padahal saat itu tidak ada
angin yang melintas. Saat Bu Sri sedang mengunci pintu sekre itu, kami dibuat
terkejut, ada banyak rambut di bawah kaki kami, namun kami tidak berani untuk
menengok ke atas. Kami pun berjalan namun cepat, sehingga kami sampai di lobby.
Dan kami tidak membicarakan kepada semuanya, agar mereka tidak merasa takut.
SCARY(3)
Lorong Kelas
Saat itu suasana
sangat sepi, mungkin karna aku mendapat jadwal belajar di kelas yang terdapat
disuatu gedung. Ya, Gedung E! Gedung itu
bernama gedung E, entah kenapa disekolah ku selalu menamakan gedung dari huruf alfabet.
Ku pikir-pikir memang gedung ini yang paling jauh dari gerbang sekolah. Mungkin
itu alasannya mengapa suasana disana sangat sepi, dan memang kenyataannya
jarang terlihat murid berlalu-lalang melewati lorong-lorong gedung itu.
Rasanya ingin cepat-cepat selesai
dari pelajaran terakhir itu, hatipun sudah tidak tenang, dan suasana disanapun tak membuatku nyaman lagi. Angin pun
bertiup cukup kencang, mengakibatkan daun-daun pepohonan yang berada di luar
kelas ku bergoyang hingga perhatian ku tertuju ke salah satu pohon yang cukup
besar di sudut lorong yang dapat kulihat dari dalam kelas dimana aku duduk,
memang cukup jauh, namun mata ku masih normal sehingga benda yang jauh masih
terlihat jelas oleh kedua bola mata ku.
Seperti terkena sihir, mataku
terus tertuju dan terus memperhatikan pohon itu. Astagaaaaaaaaaaaa!!!!! Aku melihat
perempuan paruh baya berdiri di bawah pohon itu, mata ku seolah tak bisa
berkedip, rambutnya putih, namun yang ku lihat hanyalah tulang-tulang yang
terlihat seperti tengkorang berjalan, kulit-kulit yang menempel pada tubuh
layaknya manusia normal kini tak ada, melainkan telah terlepas. Aku yakin bahwa
aku tidak sedang melamun, mata ku melihat sosok itu dengan jelas…. Sangat
jelas!
“Fan…. Fanny? Kamu kenapa?
Pelajaran sudah selesai, cepat rapihkan alat tulis mu!” ucap teman sebangku ku
yang mengejutkan ku. Tanpa menjawab pertanyaan nya, dengan cepat aku membereskan
semua barang-barang ku. Selama diperjalanan pulang aku berusaha keras melupakan
kejadian sore itu, namun sulit rasanya.
Rasa yang Tertunda #eps8
Malam
pun tiba, Aku pun membereskan buku-buku yang akan Ku bawa untuk esok hari.
Sebagai pelajar itu lah kewajiban Ku membereskan buku-buku yang diperlukan. Tak
lupa juga untuk mengecek tugas apa saja yang belum ku kerjakan dan memang
terkadang Aku lupa akan hal itu, sehingga Aku harus selalu mengecek satu per satu
mata pelajaran yang Aku pelajari, dan untungnya semua PR ku telah selesai ku
kerjakan, memang belum cukup banyak sehingga Aku masih mudah untuk membagi
waktu ku. Hanya soal-soal yang belum ku mengerti saja yang tak ku kerjakan,
mungkin esok akan ku tanya kepada teman atau guru yang bersangkutan. Di
kurikulum yang diterapkan di sekolah ku memang mendidik siswa agar aktif bertanya,
maka dari itu akan ku biasakan selalu bertanya.
Setelah
yakin bahwa tugas-tugas ku sudah selesai, akhirnya Aku bisa merasakan waktu
santai. Terdengar dari luar rumah tetesan air hujan dan angin yang lewat cukup
kencang menggoyangkan hordeng jendela kamarku yang berwarna merah muda. Sautan
dari kodok-kodok bersorak ria menyambut hujan-hujan ini pun menemani ku di
malam itu. Akibat tak ada kerjaan yang harus ku selesaikan lagi Aku pun mencoba
menulis puisi, Aku memang menyukai untaikan kata yang indah, sehingga menarik
ku untuk mencoba membuat walau Aku belum mempunyai bakat menulis puisi, tetapi
akan terus ku coba.
Kertas
kosong, dan pulpen hitam segera ku ambil dari tempatnya. Pulpen itu mulai
menari-nari diatas kertas putih ini sedangkan Aku mencari kata-kata yang indah
layaknya puisi yang pernah ku baca, sungguh indah terdengar. Akhirnya puisi
yang telah ku buat sudah terangkai.
Hujan
Awan
hitam itu telah datang
Dunia
menjadi gelap karna mu
Matahari
pun takut pada mu
Sehingga
ia enggan menampakkan dirinya
Tik
tik tik…..
Kau
benar-benar telah turun
Suara
kodok mulai terdengar
Ditemani
kilat yang menggelegar
Kau
tak kenal waktu
Kau
turun begitu banyak
Kau
turun bersama-sama
Petir
pun setia menemani mu
Membuat
ku merasa takut
Kau
yang membuat bumi ini basah
Menyiram
semua tumbuhan yang ada
Setelah
lama kau turun
Akhirnya
kau pergi meninggalkan kerinduan
Cukup lama Aku membuat sebuah puisi
seperti itu dan hal ini Membuat ku lelah, hingga mata ku terpejam dengan sendirinya.
Rasa yang Tertunda #eps7
Di pagi hari yang cerah, banyak
embun terlihat di tumbuhan sekeliling rumah Ku, dikarenakan semalam hujan turun
begitu deras. Matahari pun enggan menampakkan kecantikannya. Aku pun keluar
rumah untuk sekedar menghirup udara segar. Terlihat orang tetangga sedang
mempersiapkan apa yang akan dibawanya untuk berlibur, mereka memasukkan
barang-barang kedalam bagasi mobil. Sepertinya sebentar lagi mereka akan
berpergian jauh untuk mengisi liburan mereka. Setelah Aku sudah mulai bosan
dengan apa yang Aku lihat di sekeliling rumah, akhirnya Aku pun masuk ke rumah
untuk sekedar melihat Ibu Ku yang sedang masak di dapur
“Niatnya sih ingin membantu, tetapi Aku takut
malah merepotkannya.” Pikir Ku. Akhirnya, Aku masuk lagi ke kamar, kebetulan
hari ini hari minggu jadi Aku hanya di dalam kamar untuk menghabiskan waktu
libur Ku, habisnya tidak ada yang mengajak Ku pergi.
Beberapa
menit Aku terdiam, Aku kebingungan apa yang akan harus Ku lakukan di waktu
senggang ini. Akhirnya, mata Ku memandang laptop yang berada di atas meja belajar
Ku, dengan cepat Aku mendekatinya dan mulai memainkan touchpad laptopku, kemudian memasangkan modem agar tersambung
dengan jaringan internet, setelah tersambung seperti biasa Aku browsing sekedar mencari informas ter-update.
Saat
sedang fokus dengan apa yang Ku lihat di salah satu blog, tiba-tiba HP Ku
berbunyi menandakan ada pesan masuk. Tidak berfikir panjang Aku mengambil HP
itu yang berada di atas kasur tempat tidur Ku. Setelah Aku menekan salah satu
tombol HP Ku agar melihat pesan masuk, Aku pun terkejut.
“Ayu….”
Isi pesan dar nomor yang tidak di kenal dari suatu tempat entah dimana
Aku
pun ragu untuk membalas nya, namun Aku mencoba bertanya
“Ya,
Ini siapa?” balas Ku singkat
“Ini
Aku,Yu… Raka.“ jawab seorang itu yang ternyata ia teman sekelas Ku. Ya, dia
Raka.
“Ada
apa, Raka?” Tanya Ku lagi
“Punya
akun Line tidak?”
“Hahaha,
tidak punya. Memang nya kenapa?”
Aku
dan Raka terus berbalas pesan, namun hanya beberapa menit saja. Setelah itu Aku
pun malas untuk membalas pesan nya yang ditujukan kepada Ku itu, yang
lama-kelamaan membicarakan hal yang tidak penting. Bagi Ku itu hanya
membuang-buang waktu Ku saja. Akhirnya, Aku pun melanjutkan aktivitas Ku
seperti biasanya, tak menghiraukan pesan masuk dari Raka.
Rasa yang Tertunda #eps6
Pelajaran berlangsung seperti biasa tidak ada yang membuat keanehan lagi macam tingkah Raka saat itu. Setelah selesai, dilanjutkan ke pelajaran yang ke-2 hingga di pelajaran ke-4.
Akhirnya, pelajaran pun selesai, Aku pun keluar kelas dan gerbang sekolah untuk pulang ke rumah. Aku turun dari lantai tiga, lantai yang paling atas menuju gerbang. Aku pun jalan sendirian menuju gerbang, kebetulah hari ini Nisa tidak masuk sekolah dikarenakan sakit. Tiba-tiba Raka berada disamping Ku, berjalan bersama Ku hingga depan gerbang.
“Tadi Kamu kenapa? Sampai bengong seperti itu, cari-cari perhatian saja.” Ucapku dengan sedikit ledekan.
“Aku.... hemmm Aku tidak apa-apa kok” jawab Raka tak meyakinkan.
“Oh iya Yu, Aku minta nomor handphone Kamu, boleh?” pinta nya.
“Oh, boleh ko. Catat ya!” jawab Ku dengan menyebutkan nomor HP Ku.
“Ok, terimakasih.” Ujarnya dengan memasukkan HP ke dalam saku baju nya.
Sesampainya digerbang Aku dan Raka berpisah. Kami pulang menuju rumah masing-masing.
Dahulu Raka tidak percaya akan hal cinta pada pandangan pertama, namun ternyata ia merasakan sendiri. Ya! Dia merasa menemukan mawar biru dihidupnya setelah kenal dengan Ayu. Sejak itu lah Raka percaya bahwa cinta itu bisa muncul pada pandangan pertama.
Akhirnya, pelajaran pun selesai, Aku pun keluar kelas dan gerbang sekolah untuk pulang ke rumah. Aku turun dari lantai tiga, lantai yang paling atas menuju gerbang. Aku pun jalan sendirian menuju gerbang, kebetulah hari ini Nisa tidak masuk sekolah dikarenakan sakit. Tiba-tiba Raka berada disamping Ku, berjalan bersama Ku hingga depan gerbang.
“Tadi Kamu kenapa? Sampai bengong seperti itu, cari-cari perhatian saja.” Ucapku dengan sedikit ledekan.
“Aku.... hemmm Aku tidak apa-apa kok” jawab Raka tak meyakinkan.
“Oh iya Yu, Aku minta nomor handphone Kamu, boleh?” pinta nya.
“Oh, boleh ko. Catat ya!” jawab Ku dengan menyebutkan nomor HP Ku.
“Ok, terimakasih.” Ujarnya dengan memasukkan HP ke dalam saku baju nya.
Sesampainya digerbang Aku dan Raka berpisah. Kami pulang menuju rumah masing-masing.
Dahulu Raka tidak percaya akan hal cinta pada pandangan pertama, namun ternyata ia merasakan sendiri. Ya! Dia merasa menemukan mawar biru dihidupnya setelah kenal dengan Ayu. Sejak itu lah Raka percaya bahwa cinta itu bisa muncul pada pandangan pertama.
Rasa yang Tertunda #eps5
Bu
Dini, salah satu guru di sekolah tempat Ku belajar yang kebetulan hari ini ia
mengisi kelas Ku. Ia adalah guru matematika, selain itu ia adalah wali kelas
Ku. Sehingga kami cukup dekat dengan nya. Bu Dini terkenal dengan guru yang
cuek dan jutek namun bila ia sedang mengajar sifat yang telah kami simpulkan pun
tak terlihat sedikit pun. Selain itu ia adalah guru amat cantik, dari postur
tubuhnya sampai cara ia berjalan pun sudah nampak jelas bahwa ia sepertinya
mantan model. Dibarengi lagi fashion yang sering ia gunakan selalu berbeda-beda
saat mengajar membuat kami para murid tak bosan melihat Bu Dini.
Pukul
07:00. Hari ini Bu Dini lah yang masuk ke kelas Ku.
“Selamat
pagi anak-anak” masuk kelas dan menyapa seluruh makhluk yang berada di dalam
kelas, hingga makhluk yang berbeda dimensi pun disapa nya. (Just kidding, haha)
“Selamat
pagi, Bu!” jawab Ku dan diikuti yang lainnya.
Seperti
biasa kami selalu berdoa sebelum pelajaran dimulai, setelah Bu Dini duduk
dimeja nya Halim pun langsung menyiapkan kami yang masih sibuk dengan kegiatan
masing-masing untuk mulai berdoa.
Pelajaran
pun dimulai, kelas menjadi hening, hanya terdengar suara Bu Dini yang sedang
menjelaskan beberapa materi yang sedang dipelajari saat ini. Aku yang duduk
bersama teman Ku dibarisan kedua dari depan mencoba memperhatikan apa yang
diterangkan, sehingga Aku berusaha untuk tetap fokus.
“Raka!”
teriakan Bu Dini untuk menyadarkan Raka yang tak memperhatikan apa yang
diterangkan di depan kelas, kelihatannya ia sedang melamunkan sesuatu.
“Iya,
Bu. Kenapa?” spontan Raka menjawab, antara sadar dan tidak sadar.
“Kamu
sedang melamunkan apa? Sampai bengong seperti itu, ayo perhatikan!” perintah
Bu Dini .
Bu
Dini memang tidak suka bila ada murid yang tidak memperhatikan saat sedang
diterangkan, walaupun semua guru kebanyakan memang seperti itu. Pandangan semua
siswa di kelas seketika mengarah pada Raka yang duduk tepat dibelakang Ku,
seperti ada tarikan magnet yang membuat semua pasang mata melirik Raka.
“Iya,
Bu. Maaf” jawabnya dan mulai memperhatikan kembali.
“Mengapa Aku jadi melamunkan cewek itu?” dalam hatinya. Meskipun Raka telah ditegur, namun pikiran nya masih entah dimana.
“Mengapa Aku jadi melamunkan cewek itu?” dalam hatinya. Meskipun Raka telah ditegur, namun pikiran nya masih entah dimana.
Rasa yang Tertunda #eps4
Sebentar
lagi matahari memperlihatkan kecantikannya di bumi ini, menyapa seluruh makhluk
hidup yang ada dan siap untuk membantu kelangsungan hidup. Namun Aku masih
tertidur pulas,
‘Oh baby I'll take you to the sky Forever you and I, you and I ... And
we'll be together till we die Our love will last forever and forever you'll be
mine, you'll be mine’.
Dan
ini lah waktunya Aku membuka kedua mata Ku, akibat suara alarm yang terdengar
membuat ditelinga Ku bising, lantas saja Aku terbangun. Begitu berat untuk
membuka mata ini, namun Ku paksa sekuat tenaga, untuk menghilangkan kantuk yang
melanda mata Ku, Aku pun mengambil wudhu dan melaksanakan sholat sebagai tanda
ketaqwaan Ku terhadap Sang Pencipta.
Seperti biasa
Aku dibuatkan bekal oleh Ibu Ku, lima hari dalam satu minggu, Aku harus sekolah dan
ia tak pernah lelah ataupun malas untuk membuatkan Ku bekal. Namun jika
kesiangan, Aku tidak mau membuat nya repot.
Setelah
memasukan semua barang yang harus Ku bawa, Aku pun mendekati Ibu Ku “Ayu
berangkat sekolah dulu ya, Bu. Asslamualaikum?” dibarengi dengan mencium tangan
nya dengan tatapan penuh kasih sayang. “Iya, hati-hati dijalan, Yu!
Walaaikumussalam.” Aku pun berjalan semakin menjauh dari rumah yang Ku tinggali.
Seperti biasa, Aku pun berpapasan dengan orang-orang berdasi yang menggunakan kemeja mereka yang terlihat rapih dan membawa tasnya itu sedang berangkat kerja.
Selama
diperjalanan menuju sekolah rasanya hati tenang, tanpa dihantui perasaan takut
akan keterlambatan, karena hari ini jalan lumayan lega dan lancar, tak biasanya
seperti ini. Akhirnya, Aku sampai di sekolah 5 menit lebih awal dari biasanya.
Rasa yang Tertunda #eps3
“Ayu…….” Seseorang berjilbab, bertubuh kurus
namun tinggi memanggil Ku dengan suara lantang, sepertinya ia ada di belakang
Ku, ternyata Dia sahabat Ku “Iya, ada apa, Nis?” tanya Ku setelah menoleh ke arah
nya. “Pulang bareng dong!” pinta seorang cewek berjilbab itu kepada Ku,
kebetulan Aku dan Nisa searah “Oke, ayo kita pulang!” berjalan dan disusul oleh
Nisa yang saat ini berada di samping Ku dan kami berjalan berdampingan.
Rasa yang Tertunda #eps2
*kriiiinngggggg* Pukul
07:00 bel di sekolah Ku berbunyi 3x, banyak orang berlarian ke arah ruangan
mereka masing-masing, tentunya bukan hanya siswa-siswi saja, tak sedikit guru
pun datang terlambat. Bila lewat 1 menit saja, Aku tidak diizinkan masuk kelas
untuk belajar melainkan harus menunggu pelajaran hingga selesai di luar ruangan.
Dengan penuh semangat Aku akan berusaha agar tidak seperti itu, bagi Ku menunggu
adalah hal yang sangat membosankan seumur hidup Ku.

